Desain Pembelajaran:
A. Pendahuluan
Desain
atau perencanaan merupakan sesuatu hal yang begitu penting bagi seseorang yang
akan melaksanakan tugas atau pekerjaannya, termasuk guru yang memiliki
tugas/pekerjaan mengajar (mengelola pengajaran). Supaya seorang guru dapat
menyusun perencanaan pengajaran dengan baik, maka harus memperhatikan
prinsip-prinsip pengajaran dan memahami strategi pengajaran. Oleh sebab itu
kita harus memahami terlebih dahulu, apa yang dimaksud dengan desain
pembelajaran? Serta menjelaskan kiteria desain pembelajaran Dan menguraikan
modul desain pembelajaran. Inilah yang akan kami bahas dalam makalah ini.
a. Pengertian
Desain Pembelajaran
Desain
adalah sebuah istilah yang diambil dari kata design (Bahasa
Inggris) yang berarti perencanaan atau rancangan. Ada pula yang mengartikan
dengan “Persiapan”. Di dalam ilmu manajemen pendidikan atau ilmu administrasi
pendidikan, perencanaan disebut dengan istilahplanning yaitu
“Persiapan menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian
suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian
tujuan tertentu”. Herbert Simon (Dick dan Carey, 2006), mengartikan desain
sebagai proses pemecahan masalah. Tujuan sebuah desain adalah untuk mencapai
solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi
yang tersedia.
Dengan
demikian, suatu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu
persoalan. Melalui suatu desain orang bisa melakukan langkah-langkah yang
sistematis untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi. Dengan demikian
suatu desain pada dasarnya adalah suatu proses yang bersifat linear yang
diawali dari penentuan kebutuhan, kemudian mengembangkan rancangan untuk
merespons kebutuhan tersebut, selanjutnya rancangan tersebut diujicobakan dan
akhirnya dilakukan proses evaluasi untuk menentukan hasil tentang efektivitas
rancangan (desain) yang disusun.
Dalam
konteks pembelajaran, desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang
sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan
bahan-bahan pembelajaran beserta aktivitas yang harus dilakukan, perencanaan
sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi
keberhasilan.
Sejalan
dengan pengertian di atas, Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran
disusun untuk membantu proses belajar siswa, di mana proses belajar itu
memiliki tahapan segera dan tahapan jangka panjang. Menurut Gagne, belajar
seseorang dapat dipengaruhi oleh dua factor yakni factor internal dan factor
eksternal. Factor internal adalah factor yang berkaitan dengan kondisi yang
dibawa atau datang dari dalam individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya
belajar seseorang, minat dan bakat serta kesiapan setiap individu yang belajar.
Factor eksternal adalah factor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan
dengan penyediaan kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa
belajar. Desain pembelajaran berkaitan dengan factor eksternal ini, yakni
pengaturan lingkungan dan kondisi yang memungkinkan siswa dapat belajar.
Menurut Gagne, kondisi internal dapat dibangkitkan oleh pengaturan kondisi
eksternal.
Sejalan
dengan hal itu, Shambaugh (2006) menjelaskan tentang desain pembelajaran yakni
sebagai “ An intellectual process to help teachers systematically
analyze learner needs and construct structures possibilities to responsively
address those needs.” Jadi dengan demikian, suatu desain pembelajaran
diarahkan untuk menganalisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran kemudian
berupaya untuk membantu dalam menjawab kebutuhan tersebut.
Dari
beberapa pengertian diatas, maka desain instruksional berkenaan dengan proses
pembelajaran yang dapat dilakukan siswa untuk mempelajari suatu materi
pelajaran yang di dalamnya mencakup rumusan tujuan yang harus dicapai atau
hasil belajar yang diharapkan, rumusan strategi yang dapat dilaksanakan untuk
mencapai tujuan termasuk metode, teknik, dan media yang dapat dimanfaatkan
serta teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan evaluasi
untuk mengukur atau menentukan keberhasilan pencapaian tujuan.
C.
Kriteria Desain Instruksional
Desain intruksional yang baik harus
memiliki beberapa criteria di antaranya:
a. Berorientasi
pada siswa
Mendesain pembelajaran perlu diawali
dengan melakukan studi pendahuluan tentang siswa. Beberapa hal yang perlu
dipahami tentang siswa di antaranya:
· Kemampuan
dasar
· Gaya
belajar
b. Berpijak
pada pendekatan system
System adalah satu kesatuan komponen
yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Melalui pendekatan system, bukan
saja dapat diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga akan terhindar
dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan melalui pendekatan system dari
awal sudah diantisipasi berbagai kendala yang mungkin dapat menghambat terhadap
pencapaian tujuan.
c. Teruji
secara empiris
d. Hubungan
Perencanaan dan Desain Pembelajaran
Perencanaan
pembelajaran (Lesson Plans) berbeda dengan Desain Pembelajaran (Instructional
Design), namun keduannya memiliki hubungan yang sangat erat
sebagai program pembelajaran. Perencanaan pembelajaran disusun untuk kebutuhan
guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Dengan demikian, perencanaan
merupakan kegiatan menerjemahkan kurikulum sekolah kedalam kegiatan
pembelajaran di dalam kelas, (Shambaugh dan Magliaro, 2006).
Walaupun
perencanaan pembelajaran berkaitan dengan desain pembelajaran, keduanya
memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan lebih menekankan pada proses
pengembangan atau penerjemahan suatu kurikulum sekolah, sedangkan desain
menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses
belajar siswa, seperti yang dikemukakan Zook (2001) bahwa desain instruksional
adalah a systematic thinking process to help learners learn.
Dengan demikian, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan sebuah
perencanaan pembelajaran adalah kurikulum yang berlaku di suatu lembaga;
sedangkan pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan suatu desain
pembelajaran adalah siswa itu sendiri sebagai individu yang akan belajar dan
mempelajari bahan pelajaran.
D.
Model-model Desain Instruksional
1. Model
Kemp
Model
desain system instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang
membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain system pembelajaran terdiri
atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan
berbagai kendala yang timbul.
Model
system instruksional yang dikembangkan Kemp ini tidak ditentukan dari komponen
mana seharusnya guru memulai proses pengembangan. Mengembangkan system
instruksional, menurut Kemp dari mana saja bisa, asal saja urutan komponen
tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk mencapai hasil
yang maksimal. Komponen-komponen dalam suatu desain instruksional menurut Kemp
adalah:
a. Hasil
yang ingin dicapai
b. Analisis
tes mata pelajaran
c. Tujuan
khusus belajar
d. Aktivitas
belajar
e. Sumber
belajar
f. Layanan
pendukung
g. Evaluasi
belajar
h. Tes
awal
i. Karakteristik
belajar
2. Model
Banathy
Model
ini memandang bahwa penyusunan system instruksional dilakukan melalui
tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu
program pembelajaran yakni:
a. Menganalisis
dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan system maupun tujuan spesifik.
Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau peserta
didik.
b. Merumuskan
kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam
tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat
meyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
c. Menganalisis
dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan mengiventasikan seluruh
kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi
yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
d. Merancang
system, yaitu kegiatan menganalisis system menganalisis setiap komponen system,
mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
e. Mengimplementasikan
dan melakukan control kualitas system, yakni melatih sekaligus menilai
efektivitas system, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi.
f. Mengadakan
perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
3. Model
Dick and Cery
Model
dick and cery harus dimulai dengan mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum.
Menurut model ini, sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance
goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal
siswa terlebih dahulu. Criterion Reference Test, artinya tes
yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus
selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran, yakni skenario pelaksanaan
pembelajaran yang diharapkan dapat mencapai tujuan secara optimal,
setelah itu dikembangkan bahan-bahan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.
Langkah akhir dari desain adalah melakukan evaluasi, yakni evaluasi formatife
dan evaluasi sumative.
4. Model
PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional)
Model
PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional) adalah model yang dikembangkan
di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan
perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistemis, untuk dijadikan
sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
PPSI
terdiri dari 5 tahap yakni:
a.
Merumuskan tujuan, yakni kemampuan
yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam perumusan tujuan ini yakni
tujuan harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau
dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan
tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.
b.
Mengembangkan alat evaluasi, yakni
menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masing tujuan. Alat
evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah perumusan tujuan untuk meyakinkan
ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
c.
Mengembangkan kegiatan
belajar-mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan
menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
d.
Mengembangkan program kegiatan pembelajaran
yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan
sumber pelajaran.
e.
Pelaksanaan program, yakni kegiatan
mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes, dan
melakukan perbaikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad Rohani, Pengelolaan
Pengajaran Edisi Revisi, Jakarta: Rineka Cipta, 2010
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain
Sistem Pembelajaran , Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2008
Ahmad Rohani, Pengelolaan
Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 1995
Tidak ada komentar:
Posting Komentar